Apa Risiko serta Kerugian Budaya Ajaib Mengamplas dan Mengetuk Busi?

Apa Risiko serta Kerugian Budaya Ajaib Mengamplas dan Mengetuk Busi?
Apa Risiko serta Kerugian Budaya Ajaib Mengamplas dan Mengetuk Busi?

Autogear.id - Pengetahuan soal celah elektroda busi dan efek berantainya, sepertinya belum banyak dipahami oleh mereka yang membudayakan kesalahkaprahan soal busi. Ada beberapa kesalahkaprahan tersebut, yang bukan sekadar lupa mengganti busi. Sebut saja seperti kultur mengamplas dan mengetuk busi, menjadi salah kaprah yang membudaya di kalangan pengguna kendaraan bermotor.

Misalnya saja, terkait perilaku mengamplas busi. Umumnya hal ini dilakukan, karena inisiatif untuk menghilangkan kerak kotoran di elektroda busi. Kerak kotoran itu merupakan hasil pemakaian, saat pembakaran di ruang mesin. Padahal untuk diketahui, menggunakan amplas justru malah berisiko tinggi mengikis elektroda. Alhasil, celah tersebut semakin menjadi-jadi.

Lebih ajaib lagi ada budaya ketuk busi di masyarakat awam. Lantaran enggan membeli busi baru, si pemilik kendaraan bermotor malah mengakalinya dengan mengetuk busi. Busi diketuk, kemudian bagian keramiknya dipecahkan. Agar permukaan elektroda di bodi busi semakin terbuka lebar. Ketika dilakukan hal ini, maka dapat membuat jumlah aliran listrik menjadi lebih besar.

Akibatnya, area tersebut menjadi jauh lebih panas dari yang semestinya. Nah, Repotnya kalau busi sudah begini, bukan hanya kerak yang timbul. Efek jangka panjangnya, membuat pergerakan piston menjadi tidak seimbang. Disebabkan posisi asal percikan listrik yang sudah meleset.

"Sudah seharusnya masyarakat pengguna kendaraan bermotor memahami, memang sudah ketentuannya busi memiliki masa pakai. Jadi ada kalanya busi memang ditakdirkan untuk rusak, bukan untuk dipakai terus-menerus. Oleh karena itu, budaya salahkaprah ini hendaknya tidak dilakukan lagi, karena memiliki risiko kerugian yang jauh lebih tinggi," ujar Technical Support PT Niterra Mobility Indonesia (NGK Busi) Diko Oktaviano, memberi wejangan positif buat para penganut aliran amplas dan ketuk busi.


(uda)