AHM Senang Opsen Tidak Jadi Diberlakukan, Menjaga Daya Beli Masyarakat

AHM Senang Opsen Tidak Jadi Diberlakukan, Menjaga Daya Beli Masyarakat
AHM Senang Opsen Tidak Jadi Diberlakukan, Menjaga Daya Beli Masyarakat

Autogear.id – PT Astra Honda Motor (AHM) mengaku senang ketika Opsen tidak jadi diberlakukan oleh pemerintah daerah. Seperti diutarakan Executive Vice President PT AHM Thomas Wijaya, saat berlangsung kegiatan buka puasa bersama media di daerah Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Kamis (6/3/2025).

“Kami bersyukur dan berterima kasih Opsen tidak jadi diberlakukan oleh pemerintah daerah. Dengan memberikan subsidi atau insentif. Sehingga tidak jadi berdampak pada daya beli konsumen,” unggah petinggi AHM ini.

Thomas kembali menambahkan, dengan tidak jadi diberlakukannya Opsen, atau Opsen itu mendapat subsidi maupun insentif, sehingga menjadi tidak ada kenaikan harga sepeda motor.

“Maka buat kami yang berkecimpung di industri sepeda motor, itu menjadi positif, karena mendukung daya beli masyarakat. Jadi buat masyarakat tidak ada kenaikan harga beli sepeda motor,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, ke depannya pihak AHM berharap kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah tersebut dapat terus dilanjutkan, misalnya saja sampai dengan akhir tahun.

Menyangkut Opsen, diketahui kalau Opsen adalah pungutan tambahan pajak menurut persentase tertentu. Opsen dikenakan atas Pajak terutang dari : PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor), dan Pajak MBLB (Mineral Bukan Logam dan Batuan).

Pangsa Pasar Skutik Honda Masih di Atas 90 Persen

Dalam kesempatan yang sama, Thomas juga menyampaikan bahwa terkait pangsa pasar skutik Honda saat ini masih di atas 90 persen. Tidak terjadi penurunan menyangkut pangsa pasar tersebut.

“Market share skutik kami masih di atas 90 persen kok. Pada Februari tahun ini dibandingkan tahun lalu relatif stabil di produk Honda, yakni masih di atas angka 400 ribu unit. Bahkan naik juga dibandingkan bulan Januari tahun ini,” ungkapnya.

Ada alasan tersendiri mengapa Januari tahun ini tidak setinggi Februari, antara lain faktor banyaknya hari libur. “Januari hari kerjanya lebih pendek, di akhir bulan ada beberapa kondisi hari libur nasional atau cuti bersama,” kata Thomas lagi.


(uda)